Senin, 21 Maret 2011

Keuntungan dan kerugian software OpenSource

A. Keuntungan

1. Banyak tenaga yang terlibat
Kegiatan Open Source biasanya melibatkan banyak orang. Memobilitas banyak orang dengan biaya rendah (bahkan gratis) merupakan salah satu kelebihan open source. Kasus Linux, programmer yang terlibat dalam pengembangan Linux mencapai ribuan orang. Bayangkan jika mereka harus digaji sebagaimana layaknya programmer yang bekerja di perusahaan yang khusus mengembangkan software untuk dijual. Kumpulan skill ini memiliki nilai yang berlipat-lipat tidak sekedar penambahan saja.
Untuk menentukan kesalahan (bugs) dalam software diperlukan usaha yang luar biasa, menentukan sumber kesalahan ini merupakan salah satu hal yang tersulit dan mahal. Dengan opensource Kegiatan debugging dapat dilakukan secara paralel. meskipun koding masih merupakan aktivitas yang sendiri-sendiri (solitary), akan tetapi nilai tambah yang lebih besar datang dari pemikiran banyak programmer atau komunitas.

2. Peningkatan Kualitas
Adanya peer review meningkatkan kualitas, reliabilitas, menurunkan biaya dan meningkatkan pilihan (choice). adanya banyak pilihan dari beberapa programmer membuat pilihan jatuh kepada implementasi yang lebih baik. Contoh nyata dari hal ini adalah web server Apache yang mendominasi pasar server web.

3. Menjamin Masa Depan Software
Konsep open source menjamin masa depan (future) dari software. Dalam konsep closed-source, software sangat bergantung kepada programmer atau perusahaan. Bagaimana jika programmer tersebut bekerja atau pindah ke perusahaan lain? hal ini tentunya akan merepotkan perusahaan pembuat software tersebut. Di sisi pembeli juga ada masalah, bagaimana jika perusahaan tersebut gulung tikar? Nilai closed-source software akan cenderung menjadi nol jika perusahaan tersebut bangkrut. Dengan kata lain, “the price a consumer will pay” dibatasi oleh “expected future value of vendor service”. Open source tidak memiliki masalah tersebut.


B. Kerugian

1. Support Berbayar dan Langka
Satu keyakinan bahwa software open source tidak akan ada masalah adalah keliru, hal ini merupakan sebuah bencana jika program opensource sudah digunakan untuk semua infrastruktur yang besar, dan ketika software menemui hole atau bug yang tidak ada yang paham. Maka langkah yang mungkin ditempuh adalah : searching problem solving di forum-forum, tanya sana sini. Jika tidak ketemu juga, kita bisa-bisa harus menganggarkan dana yang tidak sedikit untuk mendatangkan jasa konsultan dari pakar opensource tersebut.
Karena sebenarnya opensource adalah sebuah model bisnis yang berbeda dari software berbayar di awal dan dibatasi sebuah aturan lisensi. Mungkin untuk skala kecil, tidak akan merasakan impack yang diakibatkan. Namun jika sudah melibatkan sistem yang sudah ada, data-data penting, kadang-kadang manajemen biasanya tidak akan ambil pusing, mending mencari yang berbayar sedikit mahal diawal, tetapi ada jaminan support dan problem solving yang akuntabel dari vendor. Daripada mengorbankan data-data dan infrastruktur yang sudah terinstall hanya karena berorientasi penghematan dana di awal.

2. Versi Betha, Stabil dan unstabil.
Open source sangat erat kaitannya dengan versi dan kestabilan kualitas softwarenya. Hal ini merupakan celah besar yang ditinggalkan baik disengaja ataupun tidak disengaja. Kepastian stabil dan tidak stabil kadang menjadi keraguan pilihan para petinggi IT untuk memilih software opensource.
Bayangkan saja, versi software opensource yang terinstall di server statusnya masih unstable, bisa dibayangkan bila terjadi apa-apa dan patch-nya harus menunggu orang yang sukarela untuk memperbaiki masalah yang terjadi tersebut.

Sumber :
http://rijaljuarez.blogspot.com/2010/05/kekurangan-dan-kelebihan-open-source.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar